Featured

25 Jam Sehari

Akan selalu ada masa, di mana, kita akan terbangun dari tidur dengan perasaan yang lelah, masih setengah sadar, dan berkata,

Hasil gambar untuk sleepy in morning gif

“andai gue punya waktu satu jam lagi untuk lanjut tidur”

Dan akan sampai juga waktunya, ketika kita mengerjakan tugas yang begitu menumpuk disertai jatuh tempo yang sudah membuntuti dan begitu mepet, hingga  sesak rasanya,

Hasil gambar untuk stressed because deadline gif

kita mendengus, “andai gue ada tambahan waktu.”

Ya, akan ada masanya kita benar-benar berharap bahwa kita punya waktu lebih dari 24 jam sehari. Bahwa kita punya 8 hari dalam seminggu, hingga ada 1 hari ekstra untuk beristirahat.

Namun lagi-lagi, kita hanya punya 24 jam. 7 hari dalam seminggu. Dan 365 hari dalam setahun (366 kalo tahun kabisat).

Dan ketika gue menulis tulisan ini, daymn.. 2 bulan lagi sebelum tahun 2018 ini berakhir tjuy ! its kinda crazy to know how fast the time changing ~

Hasil gambar untuk holding a feeling gif

Dan diumur gue saat ini yang udah 20 sekian dan terimakasih, serius deh, perihal waktu sudah seperti pipi chubby –nya tatan yang minta dicubit saking gemasnya.

Maksudnya gini, dulu pas gue kuliah, ga terhitung kali ya gue wishing semoga waktu cepat berlalu. Semoga ujian cepat berlalu, semoga gue cepat lulus, hingga ga perlu lagi memikirkan amburadulnya kehidupan perkuliahan.

Dan ketika gue nyaris lulus, gue tersadar gue pun melakukan hal yang sama ketika SMA. Berdoa agar cepat lulus agar bisa kuliah. Karena ketika SMA, dunia perkuliahan seperti hogwarts yang menantang dan terlihat sangat ‘dewasa’ dan kata ‘dewasa’ di masa SMA adalah kata yang menggiurkan.

Jadi ketika gue mulai masuk kerja (pasca lulus kuliah), tbh, gue mulai aware. Trik apalagi yang akan dilakukan Sang Waktu. Apakah gue akan terjebak di fase yang sama atau tidak. Apakah gue akan masih kejar-kejaran seperti tom and jerry, atau gue sudah bisa jalan berdampingan seperti cabe dan terong yang sedang mesra-mesraan di taman kota terdekat.

well.. Gue bisa bilang, fasenya nyaris sama. Namun yang ini, levelnya lebih ganas. Lebih mengenaskan.

Ketika bertemu hari senin, di mana gue harus memulai pekerjaan sehari-hari, yang rada melelahkan (yaiyalah namanya kerja geblek !). Gue selalu gasabar ingin segera bertemu kamis agar besoknya bisa ketemu jumat dan tadaa…. Sabtuku tersayang bisa kupeluk kembali.

BUT !!!! Lalu gue merasa parno sendiri. CMON !

Hasil gambar untuk fucked up gif

Kalau lo yang senasib dengan gue (bertemu senin dan ingin segera bertemu jumat), dan merasa ‘yey, gue gasendiri…’

Gue harap lo juga punya parno yang gue rasa. Atau at least, setelah ini lo ikutan parno. Atau mengerti deh gue parno kenapa.

well.. Parno ga sepenuhnya negatif kan. Yang banyak buruknya itu porno. Ea.

ok, kembali ke topik. Jadi yang bikin gue parno adalah ketika gue sadar,

Bila waktu bergerak tanpa terasa (a.k.a sangat cepat) hingga senin dengan cepatnya gue akhiri agar bisa ketemu jumat, gue akan berakhir pada penyesalan di hari tua.

YA KAN ? *ngegas*

simple-nya gini, gue sekarang hampir selalu mencoba mengevaluasi waktu yang gue habiskan selama seminggu, setelah beberapa bulan mulai kerja gue sadar, waktu-waktu gue habis begitu saja.

seharusnya gue bisa menikmati 24 jam lebih lama lagi.

Daripada tenggo (teng jam lima langsung pulang kantor), Gue bisa kan stay sejam lebih lama untuk mengerjakan hal lain. Ga harus pekerjaan kantor (kalau misalnya udah selesai), misalnya membaca jurnal (eaa), atau belajar bahasa inggris deh, biar bisa semakin jaksel-ish wakaka.

intinya coba deh, lo evaluasi jam-jam yang lo habisin.

Soalnya evaluasi yang gue lakuin selalu berujung pada selusin kata ‘what if’ a.k.a ‘seandainya’

seandainya kemarin gue begini’

seandainya tugas ini gue selesaikan dari minggu lalu.’

dan ga jarang, kita menyesali tahun-tahun yang lalu.

masa lalu yang dikenang lalu membuat kelabu.

etdah.

well.. Setiap dari kita bisa banget punya 1 tambahan jam ekstra setiap harinya. Bila saja kita mau menggunakannya. Bila saja kita sanggup mengorbankan 1 jam yang biasanya kita gunakan sia-sia agar dapat kita gunakan dengan maksimal.

Dan menulis postingan ini salah satunya. Dari kemarin gue mengeluh gue ga punya cukup waktu buat menulis. Ga cukup waktu tersisa buat nge blog. Lalu sadar gue mulai goblok.

Gue punya jam-jam yang bisa gue gunakan, agar besok gue ga lagi berandai-andai, ga lagi bilang ‘seandainya’ tapi gue bisa bersyukur dan berkata ‘thanks God gue kemarin udah begini.’

ngertii kan maksud gue di sini ?

and thats it.

thats how i spent my one hour today, the same one hour with different éxtra productivity.

so again, bukan soal waktu, tapi soal menggunakannya dengan jitu.

Yep,

hati hati dengan waktu,

nanti tersandung kamu sampai jatuh,

lalu tinggal kamu dengan gerutu,

karena telah habis waktu tanpa mutu.

see you till next post  ^^

a/z

Iklan

Ada Apa Dengan Ambis

Satu julukan yang sering kali dilemparkan sana-sini diantara kalangan mahasiswa. Yaitu ambis

Ambis di dunia perkuliahan lebih sering dititelkan bagi mereka yang belajar begitu kentara dibanding mahasiswa kebanyakan.

“Ambis abis lo ya.”

“Gile, dia ambis abis orangnya. Tugas deadline masih minggu depan, dia udah selesai tadi.”

Dll.

Jadi seperti ada kubu diantara mahasiswa :

  1. Mereka yang dikatain ambis (Seringnya ngelak, lama-lama jatuhnya dikatain psytrap)
  2. Mereka yang memang ambis (Sudah coming out)
  3. Mereka yang mengatain ambis (Entah karena dia emang ga ambis atau takut dikalahkan keambisannya a.k.a gatau diri)

Anak-anak yang sibuk organisasi atau hal-hal lain selain belajar, biasanya gatal untuk berkomentar. Melihat teman-teman mereka yang setelah kuliah langsung pulang, tak pernah menunjukkan batang hidung di acara kampus, dan ya, ambis belajar dan mengerjakan tugas.

“Gila.. dia itu gak ada kerjaan apa ya.. belajar mulu..”

“Gue kan sibuk, lah dia.. belajar mulu, ya wajarlah IP-nya segitu.” Balas si anak organisasi waktu mengomentari anak ‘ambis’ yang IP-nya memang tidak mengkhianati usahanya.

well.. let me tell u, thats your own choices.

Aku salah satu orang yang dulu sering mengomentari anak-anak ‘ambis’. Menganggap betapa ‘flat’-nya kehidupan mereka yang kayaknya belajar mulu.

Well..

Setahun ditingkat dua, menyadarkanku betapa semuanya ini tentang pillihan masing-masing. Emang salah karena seseorang hidup sesuai dengan caranya dan bukan dengan cara yang kita lakukan ? nope. Kalau Kita mengejek mereka yang memilih lebih fokus dan kerja keras terhadap studi mereka dibanding berorganisasi atau nongkrong semalam suntuk bersama teman, itu berarti kita yang tidak bisa menghargai keputusan kehidupan seseorang.

Bahkan ‘Ambis’ sendiri memiliki makna yang begitu luas jika ditarik dari kata aslinya.

Ambisi (Menurut Kbbi.web.id) : keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu.

Setiap orang memiliki ambisi. Malah, lebih ekstrimnya, manusia membutuhkan ambisi untuk bisa menjadi kuat. Maka setiap orang pun memiliki ambisi yang berbeda-beda.

Beberapa mahasiswa memiliki ambisi untuk dikenal dan mengenal banyak orang, itu mengapa lebih memilih untuk mengikuti berbagai organisasi dan acara kampus yang bisa mewujudkan ambisi mereka tersebut. Sebagian memiliki ambisi untuk travelling, ada juga yang ambisinya berupa dedikasi dalam mendalami ajaran agam. Dan ya, ada juga mereka yang berambisi mendapatkan nilai yang baik di studinya.

Gak semuanya saling bertentangan. Kebanyakan orang memiliki beberapa ambisi dalam daftar cita-cita mereka.

Cuma dalam perkuliahan, entah mengapa kata ‘ambis’ menyempit maknanya, lebih condong kepada mereka yang ambisinya berpusat pada studi.

Bahkan tidak jarang terjadi, dimana komentar negatif terlontar ketika melihat ada mahasiswa yang nilainya rendah dan di kelas yang sama ada yang IP-nya sungguh wow. HAHAHA, its like the worst joke ever. Ketika ada anak kelas yang nilainya rendah (maafkan, bahkan D.O jika di kampus saya), yang dikambing hitamkan malah mereka yang IP-nya cemerlang di kelas itu.

Kita adalah mahasiswa, yang dilihat dari umurnya pun sudah dianggap dewasa untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan kita. Its not fine to mock other people because they’re not living their life like you do.

Sampai titik ini, Aku seperti berada mendukung pihak mereka yang ‘ambis’. Well, yeah.. Aku termasuk banyak belajar cara belajar yang baik dari mereka. Oiya, yang Aku tekankan disini adalah mereka yang ‘ambis’ yang berambisi. Bukan yang terobsesi.

its different you know ! Obsesi seperti tingkat ekstrim ambisius yang menjadi negatif. Obsesi itu seperti melampiaskan segala emosional mereka di dalam ambisi mereka. Jadi jika ambisi mereka tidak terpenuhi, orang itu bisa sangat stress, atau bertingkah berlebihan (a.k.a menyeramkan).

Orang yang berambisi, tidak akan mudah menyerah, tapi mereka yang terobsesi bisa begitu mengerikan. Orang yang berambisi akan akademik yang baik akan memusatkan energi dan pikiran mereka untuk berlatih dan belajar agar bisa mendapat nilai yang baik. Tapi ditingkat obsesi, orang bisa menjadi lupa diri, bisa jadi menghalalkan segala cara demi IP atau apapun itu yang sudah menjadi obsesi, bukan sekedar ambisi lagi.

Memiliki ambisi adalah hal yang bagus, tapi jangan sampai ambisi yang memegang setir kehidupanmu. Ibaratkan kehidupan adalah pengendaraan sebuah mobil, maka ambisi adalah titik pada peta yang menandakan daerah yang ingin kita capai. Tapi biarlah setir tetap dipegang oleh kita. Karena seringkali jalan yang kita tempuh tidak semulus peta yang ada di tangan kita.

Rasa gelisah berlebihan, ketakutan dan kecemasan, adalah hal yang harus kita hindari dalam berambisi. Karena hal negatif tersebut hanya akan mengecewakan dan membuat diri kita lelah. Biarlah harapan, cinta dan perasaan positif yang kita jadikan bahan bakar untuk setiap ambisi yang kita miliki. 

Aku pernah mendengar dari mereka yang ‘ambis’ ini, ketika mereka menceritakan dengan gamblang bagaimana jadwal belajar mereka yang begitu ketat dan konsisten. Disaat mahasiswa lain lebih memilih bersantai-santai karena ujian masih dua bulan lagi, mereka sudah belajar dimalam hari sembari mengerjakan tugas yang deadlinenya masih lama. Mereka tahu goals mereka tidak bisa ditempuh dengan SKS (Sitem Kebut Semalam). Maka dari itu mereka keras terhadap diri mereka dan memilih untuk disiplin dalam belajar.

Mungkin bagi beberapa orang kata ‘jenius’ adalah bagi mereka yang sering nongkrong atau bermain-main, tapi secara ajaib nilai mereka pun cemerlang. Seperti film-film detektif yang dimana tokoh utamanya biasanya memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Well, Aku tidak setuju. Menurutku, IQ yang tinggi tidak semerta-merta membuat orang ‘jenius’, walaupun pada kenyataannya label jenius stereotipnya adalah bagi mereka yang IQ-nya diatas rata-rata.

Tapi dalam realita, Aku lebih setuju pendapat Albert Einsten mengenai arti jenius :

Genius is 1% talent and 99% hard work.

Jenius adalah 1% bakat dan 99% kerja keras

Terkadang bagi yang merasa bodoh atau IQ-nya tidaklah cemerlang, sering merutuki diri dan menyalahkan kelahirannya yang tidaklah beruntung. Well.. Aku ingat sebuah pepatah lain yang dipakai teman sekelasku dulu ketika SMA  di buku tahunan, in the end hard working beats the talent, when talent doesn’t work hard. Artinya : Akhirnya kerja keraslah yang mengalahkan bakat, ketika bakat tidak dibarengi dengan kerja keras. Yap, sependapat dengan apa yang dikatakan Albert Einstein.

Itulah mengapa mereka yang belajar dengan tekun berjam-jam tetap lebih pantas disebut jenius dibanding mereka yang membuang-buang waktu karena merasa dirinya lebih ‘cepat menangkap pelajaran’. Maka gak ada alasan untuk menjadi bodoh kan ya ?

Berarti jenius bukanlah sebuah hak prestisius yang hanya diberikan ke orang-orang tertentu. Jenius yang sebenarnya bisa didapatkan semua orang, its opportunity for everybody. Tapi tidak semua yang mau untuk mendapatkan titel itu.

Hanya mereka yang berambisi dan dengan serius mengerjakan setiap pilihan yang mereka putuskan dengan tak kenal menyerah, yang akan dan pantas mendapat titel tersebut.

Ya, lagi-lagi ambisi disini bukan melulu tentang pelajaran diatas kertas. Mereka yang menjadi MC yang tenar di kampus, kita tidak pernah tahu betapa mereka berlatih keras di dalam kamarnya, menonton berbagai video MC kondang lainnya untuk dapat belajar dari sana. Kita tidak pernah tahu seberapa kerasnya para atlit tingkat nasional berlatih pagi siang malam, demi menjadi jenius dibidangnya. Bahkan untuk menampilkan sebuah tarian  yang berdurasi lima menit-an, dibutuhkan proses hingga berbulan-bulan, yang tentunya tidak diketahui oleh penonton.

YA. KITA TIDAK PERNAH TAHU.

Maka dari itu, untuk apa sibuk mengomentari orang lain ? Bukankah satu hal yang bisa kita tahu pasti adalah hal yang kita sendiri lakukan ?

Maka bukannya lebih kredibel dan bermanfaat jika kita mengevaluasi diri sendiri dibanding sibuk mengomentari kehidupan orang lain ?

well.. those questions slapped me right on my mind. 

Daripada menjadi sampis (sampah abis) karena sibuk mengurusi hal yang tidak seharusnya kita urus, lebih baik menjadi ‘ambis’ yang benar. Yang tahu tujuannya dan benar-benar mengerjakan hal-hal demi mencapai mimpi tersebut.

Diakhir postingan yang berasa speechy ini, Aku benar-benar menyukai sebuah kutipan yang pernah kulihat di CD artis Agnes Monica yang dijual di gerai KFC :

When haters were busy talkin’
I was busy making it happen
When they were busy mocking
I was busy walking
When they were busy laughing
I was busy running
And they’re STILL wondering
why they’re left behind..
With lots of love, me..

Hope your days going right and your ways going right..

See you at next post ^^

Mengenal Apa itu Special Snowflake Syndrome

Berawal dari membaca sebuah jawaban seseorang di ask.fm, membuat Gue kepo dan berujung menelusuri apa sebenarnya maksud idiom ‘Special Snowflake Syndrome’

Belum lagi kata syndrome yang terdengar ‘begitu’ negatif, sukses membuat gue memutuskan bukan sekedar tahu, tapi “Well… i will write something about this..

Oke, jadi apa sih Special Snowflake Syndrome (SSS) itu ? (Udah kayak martabak aja pakai spesial-spesial segala.)

The Special Snowflake (Also referred to as one with the “Special Snowflake Syndrome” or “SSS”) is a person who believes they are different and unique from everyone else because of something there are or do. This thing they are or do, most commonly is something is something many many other people are doing, E.G.Genderfluid, Therian (Otherkin), etc. Special Snowflakes almost always have a superiority complex.

-Top Definition of urbandictionary.com

Biar gue perjelas dalam bahasa tanah air kita,

Jadi Special Snowflake Syndrome ini adalah sebuah ‘sindrom’ dimana seseorang percaya bahwa mereka berbeda dan unik dari orang lain, karena sesuatu yang mereka miliki atau lakukan. Padahal faktanya, apa yang mereka lakukan atau miliki itu pun adalah sesuatu yang banyak dan biasa orang lakukan.

Dan di definisi bahasa inggris yang Gue lampirkan diatas, ada sebutan contohnya, gue gak akan fokus ke penjelasan term-term seperti itu, tapi biar gue jelasin sedikit.. Genderfluid (Mereka yang percaya atau nge-klaim bahwa mereka bukan sekedar ‘cowok’ atau ‘cewek’, tapi gabungan dari keduanya, its not like queer too much, karena kalo queer kan lebih ke cowok yang men-cewe, nah ini bisa dikeduanya, baik cowok atau cewek), terus Therian (Sepenangkap Gue sih, ini itu orang-orang yang merasa memiliki hubungan spiritual tertentu dengan binatang tertentu, makanya gak jarang juga sekarang muncul meme-meme  ‘spiritual animal’ walaupun terkadang itu lebih ke sarkas yang menyinggung orang-orang aliran therian  ini).

Nah, Gue juga ga nge baca satu artikel atau sumber doang, tapi gue digging sejauh mungkin tentang topik yang satu ini.

WHY Ndre ? Kenapa lo ngebet banget dengan topik ini ?

Well.. dont u get it ? Bahwa generasi saat ini sedang gencar-gencarnya terkena sindrom ini.

Gue bakal jelasin lebih dalam lagi, pandangan dan fakta yang gue dapetin setelah mencari tahu tentang topik ini. Yap, dan mungkin lo bakalan paham betapa SSS-thing ini berada begitu dekat dengan kita.

“You are not special. You are not a beautiful or unique snowflake.”

-Brad Pitt as Tyler Durden, Fight Club (1999)

Secara gramatikal, ‘Snowflake’ artinya serpihan salju.

snowflake

Tahukah sebuah fakta menarik tentang serpihan salju (snowflake) ini ? Bahwa setiap serpihan salju yang berukuran mikroskopis ini tidak pernah identik setiap bentuk sisi dan beratnya satu sama lain. Yang menjadi kesamaan hanyalah bentuk heksagonal (bintang sisi enam) setiap kepingan, tapi detil setiap sisinya tidak pernah sama. Seperti setiap snowflake dicetak secara khusus.

Makanya dianalogikan dengan serpihan salju. Tapi kenyataannya pun, kita, manusia, tidak pernah ada yang identik. Bahkan kembar identik pun memiliki karakteristik fisik yang berbeda (name it.. sidik jari, vokal suara.. dst.) Kalau jika semua orang spesial, atau unik karena tidak ada yang sama, apa yang menjadikan Special Snowflake Syndrome ini adalah sebuah sindrom atau hal yang negatif ?

Jika semua orang unik dan spesial (karena tidak ada yang persis sama), bukankah itu menjadikan bahwa semua orang adalah biasa ?

its like.. world its fair because its unfair for everybody

Jika SEMUA orang spesial, bukankah itu menjadikan bahwa semua orang setara dan berada ditingkat yang samathats why ada sebutan ‘special in its own way‘ atau ‘spesial dengan caranya masing-masing.’ Gak ada sebuah standar atau pakem yang bisa menunjukkan bahwa lo dilahirkan lebih atau kurang spesial dibanding orang lain.

Tapi mereka yang terjangkit Special Snowflake Syndromemerasa begitu spesial dari orang lain. Itu kenapa ada kata ‘Spesial’ di depannya. Karena mereka merasa lebih unik dan lebih spesial dibanding manusia yang memang dasarnya sudah unik. 

Orang-orang ini merasa begitu bangga karena mereka melakukan sesuatu yang tidak mengikuti stereotype.. padahal faktanya, apa yang mereka lakukan pun menjadi sebuah stereotype sendiri. Bedanya, mereka tidak mau mengakui kesetaraan, mereka merasa harus di treat berbeda ( dan lebih baik) dari orang kebanyakan.

Dan kebanyakan di poin tertentu, mereka merasa begitu powerful ketika pandangan mereka dikritik. Mereka bisa menjadi begitu defensif dan agresif jika merasa di-judge.

tumblr_ll2victS4U1qzeglvo1_500
Yap seperti ini contohnya. Hanya karena menyukai hal yang berbeda dan merasa dia ada dikategori yang rare atau langka (c’mon gak mungkin begitu langka jika meme seperti ini banyak yang likes alias merasa relatable), mereka merasa lebih baik dibanding sisi lain atau orang yang tidak memiliki kebiasaan yang sama dengan mereka.

 

avZYYSX

Well… Faktanya memang kebanyakan cewek yang merasa begitu spesial. Fakta ini pun Gue tahu setelah nge-googling dan baru ngeh hal-hal semacam ini memiliki sebutan atau term tersendiri.

 

tumblr_n4pp0hDwNf1toynh2o1_500
Ya karena kebanyakan juga mengalami superiority complex atau merasa begitu superior, maka mereka sering menuding orang rasis atau begitu close minded padahal diri mereka sendiri begitu ‘rasis’ karena merasa diri lebih superior dibanding yang lain.

Nah, dari penjelasan Gue diatas, Gue harap lo lebih paham lagi tentang special snowflake ini. Mungkin di pikiran lo sudah ada list nama-nama orang yang lo kenal yang terkena SSS atau lo mulai sadar bahwa lo selama ini menjurus ke arah SSS.

Well.. its great to embrace yourself, to know yourself that you are specialYa, itu hal yang baik untuk mengenali diri lo, sadar bahwa lo unik dan spesial. Tapi bukanlah hal yang benar untuk merasa diri lebih baik atau berharga dibanding orang lain. Itu hanya akan membuat lo menjadi keras kepala dan bebal karena merasa orang lain jauh lebih rendah dibandingin diri lo.

Dan alih-alih orang merasa lo spesial, orang bakalan merasa lo nyebelin dan ‘sok-sok’-an.

Gue spesial. Lo spesial. Kita spesial. Bahkan martabak pun ada yang spesial #Lha.

Karena itu, kita semua setara, spesial dengan caranya masing-masing.

individualitydemotivator

Well.. thats it.

Hope your days going well and your ways going right.

See you next post ^^

10 ALASAN KENAPA KAMU HARUS MEMILIH STAN

well.. postingan kali ini ‘mainstream‘ abis kalo lihat dari judulnya. Seperti headline berita-berita web kekinian. Tapi ya, mana tahu untuk kamu-kamu yang ingin mendaftar kampus ini atau juga kamu yang sekedar kepo atau have no lyfe jadi gabut (wakakak) silahkan membacanya dengan seksama. Oiya, soal tetek-bengek kampus PKN STAN ini kampus apa, lo bisa googling dah spesifik formalnya.

wait… emang ada yang ga tahu kampus PKN STAN ? *IntonasiMbaMbaDiIklanSemprotNyamuk*

HAHA. Daripada introduksinya meleber kemana-mana, lets see… 10 alasan, versi Gue tentunya, Kenapa lo harus memilih Kampus PKN STAN. (Karena ini versi Gue, jangan heran kalo jadi extreme gak mainstream lagi #Sadesss)

DISCLAIMER : Postingan ini berdasarkan pandangan penulis semata. Daripada masang wajah serius dan berkerut, lebih baik menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan membaca.

1. Nyenengin Orangtua

Jadi waktu itu sedang Ospek kampus (Namanya DINAMIKA), dan seorang pembicara yang adalah alumni STAN, tapi dia sekarang adalah motivator, mengajukan sebuah pertanyaan :

“Nah.. di tempat ini siapa yang masuk sini datang karena di ‘suruh’ sama orangtuanya ?”

Deg-deg.

Gue pikir pasti kebanyakan kemauan sendirilah, kayak temen gue yang udah mupeng sejak SMA kelas 2. Tahu-tahunya, tangan-tangan mulai mengancung. Yap, ribuan tangan. HAHA. Kebanyakan memang anak-anak yang masuk PKN STAN adalah yang dulunya ‘terpaksa’. Entah karena gengsi ga diterima di kampus PTN idamannya yang lain, hingga yang paling cliche karena disuruh mamak. Tapi jangan salah, banyak juga loh yang ninggalin kampusnya yang lama demi kampus yang satu ini #ea #notubir.

“Tapi pasti pas di wawancara kemarin, ditanya alasan masuk STAN, alasannya mulia semua.. gada tuh yang ngaku disuruh orangtuanya.” Lanjut sang motivator membuka aib.

well.. Sang Motivator sukses memecah ketegangan kami waktu itu. Tapi soal ‘terpaksa’ thing ini, banyak kok yang akhirnya merasa bersyukur karena telah ‘dipaksa’ entah oleh orangtua atau karena keadaan. Dan ada juga yang akhirnya memilih mengejar passion-nya di tempat lain.

well.. untuk kamu yang juga merasa ‘terpaksa’, kenali diri dulu baik-baik, jika memang kamu punya sebuah passion yang menurut kamu gak akan bisa kamu raih di kampus ini, dan kamu merasa yakin banget kamu akan menderita kek tokoh utama sinetron yang kerjanya mewek kalo kamu kuliah dikampus ini… (lebaynya).. you better choose ur own path. Orangtua kamu pasti lebih senang jika anaknya menghidupi pilihan yang gak membuatnya menyesal. Tapi kalau kamu seperti aku, yang sebenarnya masih no idea atau berbasis ketakutan semata.. well… jangan mau dikalahin sama perasaan !

2. UASnya berasa USM

Buat kamu yang mencintai tantangan, mendamba rasa deg-degan yang mengalahkan rasa jatuh hati, keringat bercucuran, kemudian mata memutih (lah).

Yap, bukan rahasia perusahaan lagi bahwa DO a.k.a DROP OUT seperti shinigami yang menghantui mahasiswa-mahasiswa PKN STAN. Ga jarang melihat anak yang nangis ketika keluar ruangan setelah ujian.. kapan lagi lihat reality show ‘termehek-mehek’.. wakakak.. parah ih gue, malah dibawa bercanda. Yap, tapi memang gabisa dipungkiri, Musim Ujian di STAN (terutama UAS) selalu menjadi musim cerry.. eeh.. maksudnya musim dimana orang secara emosional dan intelektual diperas lebih ekstra dibanding biasanya.

Makanya ada yang bilang “Inilah kampus dimana USMnya gak sekali, tapi berkelanjutan hingga kita lulus..” agak lebay sih, soalnya kita seperti memiliki hak imunitas gitu kalau udah kelas 3, jadi ga ada istilah D.O, tapi ngulang. (Btw USM itu Ujian Saringan Masuk ya, gaes)

well.. lemme tell u.. Kampus ini gak diciptakan untuk mend-DO-kan mahasiswanya secara sengaja (yakali). Tapi standar ‘lulusan kompeten’ memang dipegang oleh kampus ini, sejak dari zaman purbakala. Standarnya pun bukanlah standar imajiner yang kayak di film Divergent dimana kita di tes lewat dunia virtual yang imajiner, no way… standar utamanya ya gak lain dan gak bukan adalah Nilai atau lebih dikenal dengan sebutan Indeks Prestasi (IP). Gak cuma itu sebenarnya, tapi beberapa alasan lain udah pernah gue mention di post yang lain.

Terus kenapa gue masukin alasan ini sebagai kategori alasan untuk memasuki kampus PKN STAN ? Supaya kelihatan thug lifenya ?

wakakaka.. engga gitu.

Tapi, dengan adanya regulasi ‘keras’ ini, gue dan temen-temen disini belajar lebih banyak mengenai how precious the moment isBetapa berharganya momen-momen yang kita lewati. Betapa perlunya menikmati waktu bersama teman, karena kita gak pernah tahu apakah kita masih bisa lihat mereka disemester depan atau engga. Lah jadi baper …

Kita juga belajar betapa sakitnya rasa penyesalan, rasa yang selalu menjadi makanan penutup disetiap momen ‘menyakitkan’. Maka perlu untuk membagi rasa ‘sakit’ itu menjadi serpihan kecil, menjadi potongan yang kita telan hari lepas hari dengan cara belajar, mengalahkan rasa ngantuk untuk menyicil materi, apapun itu agar kita tidak keteteran diakhir dan harus menelan seluruh rasa sakit itu bulat-bulat.

Dan kemudian kita tersadar betapa pentingnya menjaga fokus. Betapa berharganya telepon dari orangtua yang berkata “udah lakuin yang terbaik.. sisanya kita berdoa, jangan terlalu memaksakan diri.“. Betapa kita dibawa untuk kembali paham, apa alasan kita untuk tetap berjuang dan tetap bertahan hingga titik darah penghabisan.

3. Gayus Pernah Ngampus Di Sini

Wakwaw. Setelah berbaperan di poin sebelumnya, mari membahas yang satu ini.

Tahukan sosok Gayus ? Yang nge-pop banget di tahun 2010-an. Jika kamu tidak tahu, one simply advice : Googling it.

Label “Kampus pencetak koruptor” bahkan sempat menjadi sterotip kampus PKN STAN di era itu.

Untitled
“What happened on google, stay on google..”

Bahkan waktu dulu awal-awal tingkat satu, seseorang kakak tingkat yang sudah lulus dan kemudian menyambung kuliahnya lagi di STAN pernah berkata bahwa temannya mengirimnya sebuah pesan,

“Woy… kirim salam ya.. buat gayus-gayus yang ada disana..”

Wah.. minta di sulap tuh orang. Padahal statement dan sterotip ‘keras’ seperti itu sama dengan istilahnya kita membuang baskom bekas memandikan bayi, sekaligus bayi yang ada didalamnya, alias njomplak  ! Yang benar, kita ambil bayinya dan buang air kotornya. Begitu juga dengan fenomena ‘gayus’ yang pernah terjadi, simpan kampusnya, dan buang ‘gayus’nya (ke penjara).

Tapi itulah menjadi alasan lain kenapa kampus ini menjadi begitu menarik. Karena jika kejahatan korupsi si Gayus membuat kita terheran-heran bagaimana dia bisa mengubah alur sana sini tanpa ketahuan, kampus yang sama, juga menghasilkan orang-orang hebat. Mungkin media kian menyorot si hebat yang menyimpang alias villainnya.. tapi tidak menyorot banyak sosok hebat yang bekerja disisi kebaikan yang juga berasal dari kampus yang sama. well.. lo bisa googling.. tapi gue masih ingat sewaktu dinamika dulu ada penyuluhan tentang KPK, dan melihat bahwa para auditor yang menjadi pendeteksi kecurangan-kecurangan perpajakan di KPK pun berasal dari kampus PKN STAN.

pendapat mba kompas
-Oleh @Maharsiana, via Kompasiana.com “Mengenal Kampus STAN, Almamater Gayus Tambunan.”

Bukankah radiasi meteor yang sama, yang mengubah Reed Richard dkk menjadi manusia super yang terkenal (Fantastic Four), juga mengubah Doctor Doom menjadi manusia super ? Tapi endingnya Reed Richard dkk menggunakan kekuatan mereka untuk memerangi kejahatan sedangkan Dr.Doom dengan kekuatan supernya menjadi monster yang tamak kekuasaan.

Yap, its back to your own choices, isnt it ?  which side u stand for ?

Btw tentang korupsi-thing yang gue dapetin di kampus PKN STAN, lo bisa baca disini.

4. Ada Liburan Bersama Tentara

tumblr_m9sfgfhboo1qju9x9o1_400
well, gak berhenti di 2009.. now its like tradition for every generation. Cr : fuckyesstan.tumblr

Pertama kali waktu gue nulis judul poin ini, gue langsung mikir “ini penting gak sih ?”

Lah gue baru inget, dari tadi emang yang gue tulis penting semua ?

wakakak..

Jadi yap, kampus PKN STAN begitu peduli dengan mahasiswanya yang mukanya (kata kakak kelas dulu) pada mirip kalkulator semua karena sibuk mikirin nilai. Saking pedulinya mereka memfasilitasi mahasiswa dengan berbagai macam paket liburan yang mengesankan untuk setiap mahasiswanya.

Begitu mengesankan sehingga setiap mahasiswa pasti memasukkan pengalaman itu dalam list unforgettable momentnya.

Liburan itu bernama Capbul, pake p loh ya, akronim dari Capacity Building.

Yap seperti namanya, it builds ur capacity. Jangan tanya detailnya deh, japri aja kalo mau tau *elah modus*.

Yang penting kalo misalnya liburan ini ada pamflet iklannya isinya seperti “disediakan makanan bergizi, enak, dan banyak.” juga “mandi lulur lumpur alami.” atau “kapan lagi bisa berjemur bersama teman teman ?”

#yha

Tapi bener deh Capbul itu sukses mengajari lo banyak hal, selain bahwa hidung manusia begitu adaptable dengan bebauan apapun itu, juga tentang betapa pentingnya bersyukur. Ea, mulai speechy lagi nih. yowes poin ini tak akhiri..

5. Nyenengin Calon Mertua

anak-pkn-stan-idaman-mertua-1
comot dari blog : lutfilhope.wordpress.com

Yha.. ini mah tagline mahasiswa tiap angkatan demi angkatan. ‘Kampus idaman mertua’ julukannya. Katanya sih, ayahnya si doi yang kalo galaknya kumat lebih nakutin dari bulldog, bisa jadi baik hati dan lembut tutur kalau kita jawab pertanyaan “Kamu kuliah dimana ?” dengan jawaban “Di STAN, pak.”

Wah.. tapi boro-boro nyenengin calon mertua, calon doi aja gapunya. *Cry in Spanish*

HAHA, jangan baper deh. Ingat sekali lagi, bahwa bukan kampus yang menentukan kesuksesanmu, tapi kamu (iya kamu). Masa depan kita gak terikat “ayo cari pacar.” “biar bisa kawin.” “terus punya anak.” “terus tua” “terus dikubur karena udah waktunya”. Okelah mungkin itu adalah checkpoint yang akan kita hadapi nantinya, tapi hidup tidak se-simple berputar disana.

Gaperlu jadi jomblo kurang kasih sayang yang dikit-dikit galau, ada celah sedikit modusin, lah … si doi mah kabur kalo gitu, kalo kerjaan kamu modusin orang. #PenasihatCinta

Ya intinya, gimana kalau melatih diri untuk menjadi dewasa terlebih dahulu ? Belajar dalam segala hal, menciptakan memori yang indah bersama teman, menjaga akademis agar tidak keteteran, menemukan arti hidup kita, menggali potensi diri dan mengembangkannya, dan paling penting, menjaga spiritualitas kita untuk tetap bertumbuh. Karena akhirnya, Pencipta kita yang menjadi sumber kehidupan setiap kita kan ya..

6. Bisa Boci loh

Beberapa kampus, mahasiswanya mengenal ‘tidur siang’ sebagai sebuah daydream, atau angan yang susah untuk diraih.

Tapi di STAN, lo masih bisa tidur siang. Ya ga setiap hari juga… tapi lebih ‘banyak’lah dibanding temen-temen lo yang kuliah di kampus lain (menurut survey).

Dengan komposisi tugas yang gak terlalu banyak (gajuga sih), kita masih punya banyak waktu untuk diluangkan. see ? thats why Gue bilang di poin ke 2, bahwa regulasi kampus ini gak pernah mendukung setiap siswanya untuk DO. Kebalikannya malah. Cuma ya itu tadi, waktu kosong bisa menjadi kekuatan jika kita gunain dengan baik atau malah membunuh kita jika kita gunain untuk hal-hal yang malah negatif buat diri kita.

Makanya jadwal futsal anak STAN itu memadai banget, apalagi di kampus ini kita pakai sistem kelas. Ya, gapapa lo mau main game atau futsal, nonton berjubel episode drakor atau tv series, its your choices. Tapi ingat, setiap pilihan punya konsekuensinya.

Dosen AKM gue semester lalu bilang, “Coba deh luangin waktu kamu yang kamu gunain untuk internetan (name it, stalking ? youtube-ing ? etc..), 20 menit aja, untuk baca materi pelajaran setiap hari.” Dan gue sadar, kalo misalnya gue udah di kos yang berwi-fi, dan mulai internetan, 2 jam sama sekali ga kerasa.

Padahal banyak banget hal produktif yang bisa kita lakuin. Gak usah deh belajar mulu, stress juga kan ya, tapi kita bisa eksplore hobi kita, kalo lo bilang hobi lo futsal atau nge game atau nonton tv series… well… its okay.. tapi bukankah lebih baik lagi kalau kita juga menggali potensi produktif dalam diri kita ? Seperti membaca buku, belajar photoshop (kita bisa nonton tutorialnya via youtube kan ya), ikut organisasi, nulis buat lo yang suka nulis… gue yakin lo bisa temuin hal-hal positif untuk dilakuin. Believe me, its worthed.

“Akan jadi perbedaan yang sangat besar, ketika kamu masuk kuliah tanpa baca materi itu sebelumnya, atau kamu sudah baca 10-20 menit, walaupun kamu belum paham sepenuhnya.”  Tekan Ibu itu.

Yap, ini gaberlaku buat di STAN doang, its universalpilihan kita, mau spending  waktu kita , atau malah wasting setiap menit kita. 

Jadi gue ganti title poinnya jadi begini :

6. Bisa EKSPLOR POTENSI  dengan FREE TIME yang ada !

7. Unity in Diversity

*Awal Masuk Tingkat 1*

Temen : “Ndre, lu dari mana ?”

Gue : “Dari tadi.”

#Kenabacok.

Gue : “Dari batam..”

Temen : “Ohhh…. Batam di kalimantan kan ya ?”

………

Well.. Di kampus ini lo bakal temuin berbagai etnis dan budaya.Berhubung Kampus STAN memang membuka USM di berbagai daerah di Indonesia. Maka kita bakal ketemu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia (udah kek taman mini aja euy). Disini lo bakal nemuin bahwa begitu banyak pengalaman untuk didengarkan. Begitu kaya budaya untuk dipelajari. Berbagai bahasa slank daerah pun disini bercampur-campur.

Gue : “We, ambilin pipetlah.” (Waktu lagi makan di resto bareng konkawan)

Temen-temen : “What…” *Krik.Krik.Krik*

Gue : “Sedotan maksud gue, hehe..”

Temen-temen : “hehe..”

Nah itu contohnya. Lo juga bakal punya kesempatan nyicipin oleh-oleh khas daerah yang akan dibawa sama anak kelas waktu selesai liburan. Seru deh, seperti misalnya setiap gue bilang gue dari Batam, kebanyakan orang bakal nyerocos, “berarti dekat sama singapur dong ? sering main ke sana berarti ?” kalo Singapura (baca: Singapur) yang dimaksud singgah di dapur, ya setiap hari. Atau kalo misalnya kayak temen dari Lombok, kita pasti pada bilang, “Ih enak banget ! Pantainya disana bagus-bagus kan ya…”

Yap, intinya, lo bisa dapet temen dari seluruh Indonesia. Widih, menggiurkan sekali bukan ?

8. Liburan Kita Beda Sendiri

tumblr_lwcam1xXNR1qju9x9o1_400
credit to fuckyesstan.tumblr.com

Bukan hanya ga bareng, liburan kita ga sepanjang kampus lain. at least ada liburnya kan. Lagian sebenarnya lo kan masih bisa ketemuan pas Lebaran.

Tapi ini salah satu alasan juga loh kenapa kita harus masuk kampus STAN.

wait… why ?

Karena dengan liburnya ga barengan, kamu mau gak mau kalo pulang kerumah bakalan dengan keluarga. Memang sedih sih, kita jadi jarang meet-up dengan teman SMA kita dulu, tapi ambil positifnya aja. Kita juga bisa liburan bersama temen-temen sekampus ke tempat wisata (name it, pantai ? gunung? dll..) dan menemukan bahwa tempat wisata itu gak rame karena minggu libur kita bukan minggu yang mainstream #IntrovertBangetYha

Lagian, tenang deh, kalo soal temen, Gue suka dengan quotes ala-ala yang bunyinya:

“good friends are like stars you don’t always see them but you know they are there.” -Cristy Evans

Iya, mungkin lo jarang ketemu sama temen lo gara-gara masalah waktu, tapi itu adalah proses pendewasaan juga. Dimana lo sadar, bahwa setiap orang, seiring beranjaknya waktu, akan memiliki kesibukannya sendiri-sendiri. Walau agak ngenes sih, apalagi kalau misalnya temen se-geng lo pada meet-up, terus mereka unggah foto, dan dengan sengaja nge-tag lu juga. BHAHA, i know how it feels.

Oiya, sering loh anak STAN yang waktu libur, main ke tempat teman SMA-nya. Jadi kayak lo ngunjungin mereka yang sedang kuliah. Ga ngerepotin kok asal lo-nya temen baik. Tapi kalo cuma kenal doang mah, parasit euy. Positifnya lo bisa kenal dengan kampus mereka (alias numpang foto), juga di tour kan gratis sama mereka disekitaran kota itu.

9. Gratis

Ini mengapa ‘nyenengin orangtua’ terasa kentara sekali. Soalnya di Kampus ini gak ada istilah bayar UKT atau apapun itu. Gak jadi beban kan ya.

Tapi alasan ini juga sering membuat mahasiswa terlena. Jadi ‘kurang’ menghargai pendidikan akademis yang disediakan karena ga ngeluarin biaya. Well… ini juga alasan kenapa STAN memegang standar yang tinggi untuk kelulusan mahasiswanya, bukan karena gratis. Tapi karena TIDAK GRATIS. Gada sesuatu yang benar-benar gratis, kita jadi mahasiswa disini tetap membayar, tapi kewajiban membayar kita diambil alih oleh masyarakat.

Yap, setiap peser yang digunakan untuk mendidik kita di PKN STAN berasal dari uang rakyat. Itu mengapa begitu ‘berat’ beban moral yang kita pikul. Tapi daripada melihat sebagai beban, lihatlah bahwa ini sebuah ‘kehormatan’, dipercaya masyarakat agar ketika lulus kelak, kita bisa memberikan sumbangsih dan pengabdian yang nyata kepada masyarakat #Eaa.

10. Kampusnya Mantan Anak IPA

Terlalu meng-generalisasi sih, karena faktanya Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini tentu saja memiliki anak-anak yang memang basis IPS dulunya. Tapi, tahukah bahwa 85% mahasiswa PKN STAN dulunya adalah anak IPA di SMA-nya ?

Mengingat fakta bahwa kampus ini mata kuliah utamanya Akuntansi, banyak anak IPA yang takut jika masuk dan tidak bisa mengikuti pelajaran.

Well… Selama 4 Semester di Kampus ini, ketakutan itu gak menjadi nyata. Waktu tingkat 1, kita benar-benar belajar akuntansi dari nol. Jadi gaperlu takut karena latar belakang SMA yang jurusan IPA. Mungkin juga ada yang berkata, “berarti sia-sia dong tiga tahun belajar IPA, kalau ujung-ujungnya belajar Akuntansi juga.”

Nope. Gak pernah ada yang sia-sia. Bahkan faktanya, cara belajar anak IPA yang cenderung lebih menyelesaikan problem soal, juga terbiasa dengan tekanan untuk belajar keras, membantu kita untuk lebih memahami akuntansi. Belum lagi di STAN, kita mengenyam pendidikan diploma, bukan strata. Jadi lebih banyak ke penerapan langsung seperti menyelesaikan problem, dibanding berkutat dengan asal muasal teori-teori akuntansi yang kita pelajari.

Yap. Itu tadi ke-10 alasan Kenapa harus PKN STAN versi gue. Terimakasih sudah menyempatkan membaca ^^

Jangan lupa like, share and subscribe ya ! (loh).

Hope your days going well and your ways going right.

See u on the next post ^^

 

Keep posing (The real b-Log)

okay well, postingan ini niatnya ingin mem-perdana-i kategori daily karena sejak keinginan menulis hal-hal simple atau berbasis keseharian belum juga terlaksana.

so.. Gue bakal nulis pengalaman di suatu hari Gue. Berhubung gue orangnya masih tahap introvert menuju extrovert (HAHA ALASAN), gue masih lebih menikmati banyak me time dimana dibintang utamai oleh Gue tanpa cameo satu orang pun.

Lanjutkan membaca “Keep posing (The real b-Log)”

Cara Mudah untuk Menjadi Koruptor

Harjo 12-01-2011 hal 22

Korupsi/Koruptor

Termasuk  kata yang memiliki khasiat untuk mengubah mood seseorang dari yang bangun di pagi hari, menyesap kopi dengan berharap hari itu lebih baik, namun ketika membaca Koran dan menemukan kata itu sebagai headline, segala kutuk dan caci negatif memanah keluar dari pikiran.

Bahkan siswa SD pun sudah tahu cara menghina dan mencaci para koruptor walaupun mereka belum tahu menahu seluk beluk apa yang sesungguhnya dilakukan koruptor tersebut.

Lanjutkan membaca “Cara Mudah untuk Menjadi Koruptor”

Esensi

Betapa pikiran adalah gerbang dari jiwa

Portal terutama menuju singasana hati

Setiap keping makna dan intuisi

Kan mencecah buah pikir, mencerminkan lukisan hati

Apakah selemah itu ?

Hingga menutup gerbang adalah opsi vital

agar tidak terbias menjadi alter ego yang lain

Apakah menuai kesejatian seperti itu hakikinya ?

Tetap mencari bahkan rasa itu pernah terpenuhi

Terus bertingkah kehilangan walau rasa itu suatu kali sirna

Jika telah ketemu, buat apa terus mencari ?