Kenapa Harus Aku ?

Kenapa harus aku ?
Ada yang lain… terlalu banyak.. kenapa harus aku ?
Masih ada lain kali.. terlalu banyak waktu lain..
Kenapa harus sekarang ?

Iklan

Tarikan di pergelangan tanganku menyentakkanku


Aww..” Keluhku. Batangan cokelat yang sedang ku nikmati terlepas begitu saja.


Tubuhku tertarik lagi.. Sekali lagi dari poros pergelanganku.

Kali ini Permen Kapas yang ingin ku raih menjauh dariku.

Aku menoleh dan  menatap tangan itu.

god-strenght

Tangan yang menggenggam erat tanganku entah sejak kapan.

Aku menolehkan pandangan, menatap tempatku semula.

Di sana ada mereka.

Di atas tanah yang terbuat dari cokelat, rerumputan permen kapasku, es krim dengan taburan gula, tak ketinggalan manisan beraneka warnanya.

Di sana ada mereka.

Tawa teman seperjalanan, senda gurau sejak lama, tempat berbagi surga manisan di sana.

Tangan itu terus menarikku, melewati jalan yang asing bagiku.

Sebuah goresan tajam melukai lenganku.


Aw” Pekikku.


Jalan seperti apa ini ! Membuatku malah terluka !

Aku menarik diri, cengkraman itu malah mengerat.

Kenapa Harus Aku ?

Aku menjerit dan meronta ingin lepas.

Ada temanku disana.. Kenapa Harus Aku ?

Tubuh ini kutolakkan melawan genggaman di pergelangan tangan.

Aku terus meronta.

Hingga genggaman itu tak lagi terasa.


Yes !

Akhirnya.. Aku bebas.

Akhirnya.. Aku bisa menikmati surga manisanku.

Aku menjemput permen kapasku, menenggelamkan wajah dengan rakus.

Cokelat melumer di lidahku, sungguh terasa nikmat.

Buah manis bertabur gula sangat lembut, memenuhi rongga mulut.


Tapi…

Apa ini ?

Wajahku terasa pedih, padahal permen selembut kapas yang ada disana.

Kepahitan merajai lidah, di mana cokelat melumer masih membanjiri.

Kunyahanku membentur hingga nyeri, bukankah seharusnya buah itu terasa lembut ?

Tanah empuk dibawahku sekejap keropos.

Menunjukkan sebuah perangkap dengan rajam di mana kakiku berdiri.


Tidak !! ” Jeritanku melengking, tanganku kontan mencari pegangan pada sulur yang ada.


Tolong aku !” Tubuhku mulai tenggelam dalam jurang kegelapan.


Tanganku tak berdaya mencari pengangan, terlalu tajam dan perih.

Kegelapan yang memenuhi pandanganku.

Kegelapan yang menggerogoti sekujur jiwa.

Hampir habis dan lenyap…

Jika tak ada semburat cahaya menerobos kegelapan.

Tangan itu.

Tangan itu muncul di lingkupi terobosan cahaya.

Seakan tangan itu adalah cahaya itu sendiri.

Kali ini Aku mengulurkan tangan.

Tapi tangan itu tak menyambut tanganku.


“Tolong..” Desisku.


Tangan itu melewatiku begitu saja.

Nyaris menutup asa.

Ketika sebuah sentuhan kokoh pada bahu dan pinggangku.

Tarikan itu. Tegas dan kokoh, erat dan menenangkan.

Kali ini menarik seluruh tubuhku.

Lembut dan penuh sayang.

Menarikku dari kegelapan yang tiada gambar.

Ketika Aku mengemis sebuah uluran, Pelukan erat yang menjawabku.

Kali ini aku tak bertanya.

Aku menatap luka di kedua tangan yang memelukku erat.

Kembali memandang lenganku, guratan bekas luka yang sungguh tak seberapa.

Membandingkan dengan yang memelukku penuh kasih saat ini.

Sekujur tubuh yang penuh bilur darah.

Seharusnya Aku tak perlu bertanya.

Aku hanya perlu menoleh ke atas.

Menemukan jawaban itu..

Dalam sebuah senyuman termanis dan sebuah pandangan yang penuh kasih.

Karena AKU mencintaimu

jesu-is-love-hug

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s