Seperangkat Kata Merdeka

porqua-mizeria

Pagi itu. Hari kemerdekaan itu. Disaat Aku dan lelaki itu bercakap-cakap. seseorang yang baru kutemui. Entah siapa namanya, entah dari mana asalnya. Mungkin Aku tahu, tapiku tak peduli. Mungkin aku mengenalnya, tapi aku tak ingin mengingatnya.

Ada yang mengganggu pikiranmu ?

Aku bertanya.

“Biarkan aku menyampakan sebuah allegori yang penuh elegi !” Mata tajamnya memandangku penuh arti.

Tentang apa ?

“Tentang kemerdekaan..”

Dan Dia meluapan isi pikirannya. Atau juga pikiranku. Atau mungkin pikiran orang lain yang ia kutip. Aku tak peduli. Atau mencoba untuk mendengar dan tidak terlalu peduli.

Alone

tarik napasmu. Dengarkan. ini opini atau malah fakta. Ini relatif atau malah spekulatif. Maka dengarkan..”






“Merdeka !”

Suara itu terdengar kesekian kalinya.

merdeka katanya ? Orang-orang itu yang selalu sibuk mencuri uang uang rakyat di balik meja kantor mereka.

“Merdeka !”

Si tua berteriak. Sudah tua masih merokok pula. Tak ada kasihannya sama sekali dengan bangsa ini. Si tua-tua lain. Si muda yang tua. Si tua yang tua. Dengan batang ditangannya. Jika tak ada kepulan asap, boleh kau katakan merdeka. 

“Merdeka !”

Tahu apa mereka tentang merdeka ? Sepasang kekasih itu menikmati hari libur mereka. Tak tahukah si gadis itu ? Kekasihnya sudah selingkuh entah ke sekian kali ? Oh tentu saja tidak mengapa, si gadis pun melakukan hal yang sama. Hm.. sama sama merdeka kelihatannya.

“Merdeka !” 

Kali ini sepasang kekasih.  Terbang ke negeri sana untuk menikah. Disana merdekanya lebih jelas katanya. Salah. Bukan sepasang. Dua orang. Sepasang hanya untuk mereka yang gendernya tak serupa.

“Merdeka !”

Si mahasiswa berteriak dengan kuat, unjuk rasa dan unjuk rasa. Ada juga yang sibuk dengan kuliahnya. Sibuk mengejar gelar. Yang lain sibuk dengan tujuannya. Tujuannya kah ? Tujuan apaan ? Hingga gelar professor ? Dipuja masyarakat, mati dan dilupakan ? Menciptakan fantasi tanpa relasi. Larut dalam realita padahal tak menyentuh realita yang hakiki.

“Merdeka !”

Si Ibu dan Si bapak tak mau kalah. Daster dan sarung. Mewakili mereka kaum bawah. Yang berkoar-koar tentang Jakarta selalu macet, tapi terus membuang sampah. Yang sibuk menuntut rumah sakit mahal, tapi tak pernah menjaga kebersihan. Berkata susah cari pekerjaan, tapi gampang membeli rokok dan berjudi. Mengutuki para sosialita tapi berharap hidup seperti mereka.

Sebutkan aku bagian mana itu merdeka.

“Merdeka !” 

Kali itu tangisan. Di sebuah kamar steril berbau obat. Si ibu kecapekan. Si suster yang menggendong. Sembilan bulan dan akhirnya melihat matahari.. Aku rasa Si makhluk kecil itu tahu apa yang akan ia hadapi ketika beranjak tua. Makanya ia menangis. Bukan malah tertawa. 

“Merdeka !”

Dan si pemabuk ikut-ikutan. 

“Merdeka !”

Si berdasi, bermartabat, berkedudukan. Tapi kehidupannya tak ada beda dengan si pemabuk. Mencari uang hingga pundi-pundi seperti membeludak. Anak dapatkan segala sesuatu yang ia mau. Tapi tidak dengan yang ia butuhkan. Atau malah keinginan telah menjajaki kebutuhan. hingga tak berbeda. Seperti kemerdekaan atau penjajahan. Masa kini, seperti tak ada beda.

“Merdeka !”

Teriak mereka yang memakai embel agama. Tapi kemudian pulang dan saling mencaci agama lain. Pulang dan menyembunyikan kebobrokan masing-masing. Aduh tuan-tuan.. bukan Agamamu yang memerdekakan.

Merdeka !”

Si bocah ikut-ikutan. Belum puber namun sudah memakai gincu. Sudah memikirkan ciuman dan pacaran. Kemudian dewasa. Tak ada yang namanya kemerdekaan. Apa yang dibangun sejak kecil pun mengikatnya. Otak tak lepas dari sekitar selangkangan.

“Merdeka !”

Teriakan teriakan itu.

Seakan merdeka, tapi masih sibuk dengan borgol masing-masing. Membelenggu diri masing-masing.

Kekosongan hati tidak apa. Asal pikiran tidak kosong. 

Kekosongan batin tidak masalah. Asal kantong jangan.




Tapi kan merdeka relatif ?

Ya.. Tentu. Relatif tapi tidak destruktif.

Kau tahu sesuatu tentang kekosongan ?

Tak ada sesuatu yang benar-benar jelas tentang kekosongan.

kau tahu kenapa ?

Karena kekosongan adalah isi.

Botol tanpa isi berarti kosong bukan ?

Ada udara. Kau melupakan pelajaran dasarmu setelah sekian lama berkutat dengan kalkulator ?

Aku tak setuju dengan kekosongan.

Jika selama ini yang kita bicarakan adalah perasaan. Maka aku lebih menyebutnya sebagai perasaan Kehausan atau Kelaparan.

Kekurangan. Ketakutan. Kerapuhan.

Bukan kekosongan.”

Apa maksudmu dengan pembicaraan ini ?

Bibirnya berkedut. Entah tersenyum atau malah menyeringai. “Kali ini, jangan coba hanya untuk mendengar. Jangan bertingkah tak mengerti.

Kau tak bisa merdeka jika yang memerdekakanmu adalah dirimu.

Atau mereka yang juga tak merdeka.

Seperti orang buta menuntun orang buta.”





vienatve

Percakapan itu berakhir. Namun tidak dengan setiap perkataan itu.

Hingga ku teringat. Kemerdekaan.. Tak butuh google atau KBBI mencari maknanya.

Di masa yang sudah lama berlalu. Seseorang pernah mengatakannya. Aku pernah membacanya. Sebuah kalimat diantara kemerdekaan itu.

dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu .

-Yoh.8.32

Untuk kali ini. Aku berharap. Bersenandung dalam doa. Bahwa Kebenaran akan memenuhi seluruh semesta. Seperti Air memenuhi lautan. Seperti itu jugalah.. setiap kemerdekaan akan teruji.

Jika merah bagi mereka adalah keberanian. Maka bagiku merah adalah kemerdekaan yang kan datang dari sebuah penebusan darah.

Jika putih adalah kesucian. Dan darah itu akan menyucikan. Memberikan kedamaian sejati bagi setiap yang menerima merah tersebut.

Dan Aku bersama-sama, denganmu, kita.. sebanyak banyaknya… se heboh-hebohnya dan se kagum-kagumnya, berteriak, saat itu kita kan melihat yang membawa kemerdekaan sejati itu.. .. ..

MERDEKA !!

Iklan

One thought on “Seperangkat Kata Merdeka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s