“Why why ?” (Tell’em that it’s human nature)

Why ?”

Pertanyaan yang kerap kali ditujukan oleh siapapun.

“Kenapa ?”

Seseorang pernah bertanya,

“Kenapa Tuhan menciptakan manusia sejak pertama kali ?”

Ya, pertanyaan yang ‘ego’. Namun terdengar normal mengingat ego merupakan salah satu bagian dari batin manusia.

“Kenapa harus repot repot beribadah ?”

Pertanyaan lain muncul.

Pertanyaan lain. Berderet.

Hingga menuju pertanyaan, “Jika Tuhan memang ada.. kenapa…”

Ya, titik ego tertinggi, dimana manusia menyudutkan Pribadi itu.

Kemudian yang ditanya, saat itu membalas pertanyaan,

“Kenapa harus hidup kalau ujungnya mati ?”

“Kenapa harus menarik napas kalau ujungnya harus dihembuskan ?”

“Kenapa harus tertawa jika nantinya akan menangis ?”

Terkadang pertanyaan bisa lebih menjawab dari sebuah jawaban.

Manusia mempunya logika, pikiran, akal sehat, apapun itu.

Tapi bukankah ujungnya kembali ke hati ?

Dulu aku berpikir manakah lebih tinggi :

Pikirankah atau perasaan ?

Otak atau hati ?

Pikiran adalah cerminan dari hati

Cermin ?

Yap. Refleksi.

Dua hal yang sama-sama vital. Bertautan.

Tapi jika yang satu adalah cerminan, maka yang lain menduduki tempat lebih tinggi.

Ya, hati.

Tanpa pikiran maka perasaan hanya akan tertutup dan tak terwujudkan. Namun tanpa perasaan (hati), manusia tak beda dengan robot, hidup padahal mati.

Kekosongan hati menimbulkan pertanyaan kosong tadi.

Si ‘kenapa’ yang tak berujung.

Keteguhan hati menciptakan pikiran yang teguh.

Bukan pertanyaan namun pernyataan.

Ya.

Karena dari hati meluap segala sesuatu

– Amsal

Tapi jika pikiran adalah cermin.

Maka layaknya cermin yang bisa buram. Begitu juga otak.

Layaknya cermin yang bisa cembung maupun cekung.

Pikiran bisa tumpul maupun tajam.

Bisa menampilkan kebalikan seperti cermin cekung.

Atau divergen seperti cermin cembung.

Tergantung bagaimana pikiran tersebut diasah.

Dibiarkan buram sehingga sulit untuk merefleksikan isi hati.

Atau membiarkannya begitu jernih sehingga orang bisa melihat melalui jalan pikiran tersebut..

Bukan salah di pikiran jika pertanyaan itu terus mengusik.

“Kenapa” “kenapa” dan “kenapa” terus menusuki cerebrum otak.

Coba periksa apa yang dibalik cermin, dibalik kemudi pikiran.

Si Hati. Apa gerangan kabarnya ?

Apa yang menempati ?

Kekosongan kah ? Kesemuan ?

Isi dengan apa yang seharusnya diisi.

Isi dengan apa ?

Dengan sesuatu yang kekal.

Karena setahuku, kekekalan yang bisa menutupi celah hati.

“Kekekalan seperti apa ?”

Cinta.

Ha.Ha.Ha.

Aku serius.

Aku pernah membacanya. Merasakannya.

Cinta sejati.

Yang tetap.

Yang sama.

Bukan semu.

Ya.

Bukan eros atau hawa nafsu.

Lebih tinggi.

Sesuatu yang kekal.

Dia.

Ya.

MerasakanNya. MengisikanNya dalam hati.

Menghapus pertanyaan.

Menghapus ketakutan.

There is no fear in love – 1 John 4

Bukan karena Dia mengisi kepalaku. atau kepalamu.

Tapi karena Dia mengisi hatiku. atau hatimu.

Love never ends. – 1 Corinthians

Kemudian aku menjadi mengerti sedikit besar dari ayat yang pernah kubaca sejak lama.

…..bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka… -Pengkotbah 3.11

Kekekalan.

Akhirnya.

Siapapun itu.

Bagaimana pun jeniusnya.

Betapa atheisnya pun.

Hati tetap memiliki ruang tersebut.

Sebuah kekosongan kekal.

Maka muncul pertanyaan itu.

“Kenapa ?”

Maka muncul kekuatiran.

Terciptalah rencana dari kekuatiran.

Ya.

Bahkan atheis pun tahu, ada kekekalan diluar sana.

Maka timbul pertanyaan “Kenapa.. Kenapa begini… kenapa begitu..”

Bukankah kembali lagi ?

Dengan apa hati ini diisikan.

Jika pikiran membebal. Maka tahulah bahwa hati sedang mengeras.

Hancurkan maka Dia akan memperbaiki.

Biarkan Dia yang kekal menyentuh hati.

Spesialis hati sesungguhnya.

Sehingga, ruang pikiran takkan bertanya “Kenapa..”

Ya. Tentu.

Kau pernah jatuh cinta ?

Memimpikan sosok tersebut sebelum tertidur ? memikirkannya ketika terbangun ? merancang masa depan yang imajinatif bersamanya ?

pernah ?

Pernahkah kau bertanya, “Kenapa aku seperti ini ?”

Mungkin. Tapi jarang. Karena kita sama sama tahu jawabannya.

“Aku telah jatuh cinta.”

Ya. Sama.

Dia melebihi cinta yang ada. Karena Dia sumber cinta tersebut.

Tak kan pupus oleh waktu dan ruang.

Maka pikiran takkan tergganggu dengan pertanyaan pertanyaan itu.

….Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir – Pengkotbah 3.11

si kenapa itu.

Bahkan jika logika pun tak memberi gambaran akan jawaban pertanyaan itu.

Namun hati telah terisi. Maka pikiran tak memiliki celah yang cukup untuk mengganggu dengan pertanyaan itu.

Ini mungkin sebuah opini. Atau mungkin fakta.

Seperti kalimat yang berkata, “Jika pikiran yang hancur membuat manusia gila. Maka hati yang lebur mendorong orang untuk membunuh dirinya.

herattt

right ? The unseen thing just can be feel by heart. 

can u see it ? Yes. By Faith

Now faith is confidence in what we hope for and assurance

about what we do not see. (Hewbrew 11.1)

Godbless ^^

Iklan

One thought on ““Why why ?” (Tell’em that it’s human nature)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s