Dan Langit Bercerita

Sore itu sedikit aneh.

Padahal hari itu memakai kelas yang memiliki pendingin ruangan yang hidup, bukan hanya aksesoris seperti sore yang sama di minggu-minggu lalu.

Ada perasaan yang bercampur aduk. Tidak baik.

Sesuatu yang menyemak dalam hati.

Menatapi setiap wajah, perasaan kesal yang semakin membuncah. Aneh.

Ditemani suara tua yang sungguh melelahkan, membuatku semakin tidak karuan.

Perasaan apa ini ? Kesal, amarah, kecewa ? Entah dari mana dan bagaimana.

Aku tidak bisa memaksa diriku untuk tersenyum alih alih cemberut. Tak bisa menendang perasaan ini dan menukarnya dengan kebahagiaan yang meluap.

Sore di kelas itu berakhir dengan segera, sesegera kakiku melangkah keluar kelas.

Langkah yang semakin cepat, dan perasaan yang juga tetap tak karuan.

Semuanya menjadi serba salah.

‘Woy cepetan jalannya ! ini bukan jalan nenek moyang lo !’

‘Kurang kerjaan banget sih ketawa ketiwi gakjelas dijalan !’

‘Ini lagi ! Sok gaul banget !’

Sepanjang jalan hati yang tak keruan itu menghasilkan polusi suara di pikiran.

Hingga ku tiba di lurusan jalan. Destinasi terakhir ada di sana. Lumayan jauh jika dilihat dari posisiku.

Tapi aku terdiam, menyadari kesalahan dalam hati dan pikiranku.

Ku tak mengerti bagaimana mengusir perasaan ini.

Tapi sesimpel, itu, ada sebuah tulisan yang terlintas dibenak. Kontan aku mendongak keatas.

Menemukan kebiruan yang berpadu dengan jingga. Langit sore itu.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya

Maz. 19.2

Seketika itu juga. Sebuah sensasi meluap dari hatiku. Perasaan bahagia yang tak bisa terkatakan, ucapan syukur tak terbendung meluap dari hati. Menendang segala perasaan negatif. Mengusir segala umpatan dan menggantinya dengan rasa syukur.

Kali ini kakiku terhenti, dan berjalan sungguh lambat. Menikmati setiap momen.

Aku mengerti ketika Dia memberi pinta untuk bersyukur senantiasa.

Ya, karena setiap hal yang ada menyimpan sebuah cerita untuk disyukuri.


Jika seluruh hal di muka bumi ini tercipta olehNya, maka segala hal akan menceritakan apapun bagiNya.

Maka bagian kita untuk membuka mata, telinga dan hati.


 

Sebuah cerita lain, di hari yang lain.

Malam itu ku terbangun, dari hibernasi panjang di sore hari. Perasaan lelah dan capai masih belum hilang. Karena hatiku yang lelah, maka seluruh tubuh seperti mengalami kekeringan tulang.

Aku bergegas keluar. Tadinya ingin mencari makan, tapi toh mencari makan hanya di ujung gang.

Maka ku memutuskan untuk melakukan hal lain malam itu, untuk memotong rambut.

Malam sepi itu, aku melangkah menikmati udara malam.

Bangkitkan semangatku..” Bisikku, kepada Pribadi itu. Yang selalu ada.


Kain panjang di hamparkan menutupi leher kebawah, sandaran ditegakkan, kompromi model pangkas di selesaikan.

Mesin cukur mulai menyapa rambutku. Ketika sebuah dialog drama di televisi barber itu terdengar. Sinetron yang berlatarkan kerajaan tempo dulu.

Adinda : “Biarkan aku mati saja kakanda, aku tidak kuat menjalani ini semua.”

Kakanda : “Jangan dinda ! Jangan bodoh..”

Adinda : “Lepaskan kakanda.” (Mungkin si Adinda ingin melakukan sesuatu yang ditahan oleh si kakanda)

Kakanda : “hidup itu soal bertahan dan berjuang. Jangan menyerah begitu saja.”

Aku tidak pernah menyangka, api yang padam dalam hatiku di kobarkan oleh sepotong dialog dari sinetron televisi yang bahkan Aku dengar ketika rambut tengah di kerjai oleh tukang pangkas.

Kehidupan bukan soal menyerah, tapi soal berjalan maju.

Ya, terkadang aku melupakan kebenaran, bahwa Dia adalah Tuhan atas segala musim.

Aku tersenyum kecil, “Terimakasih.” Kataku dalam hati, kepadaNya yang berdiam di dalamku.

Jika begitu banyak hal yang bisa di gunakan si jahat untuk menjatuhkan anak-anakNya, Ia punya cara yang tak terbatas untuk menggendong dan kembali mengangkat anak-anakNya.

Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu.

Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu;

bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?

Bukankah telinga menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan?

Ayub 12 : 7-11

Buka matamu, biarkan telingamu mendengar, rasakan detakan itu dalam hatimu.

Bagaimana seluruh ciptaan mendambaNya.

 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Roma 11.36

Ya Dia yang berjanji untuk menolong dan mengingatkan, maka “mintalah” maka akan diberikan kepadamu.

HsbXIiODHp.png

Iklan

2 tanggapan untuk “Dan Langit Bercerita”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s