Ada Apa Dengan Ambis

Satu julukan yang sering kali dilemparkan sana-sini diantara kalangan mahasiswa. Yaitu ambis

Ambis di dunia perkuliahan lebih sering dititelkan bagi mereka yang belajar begitu kentara dibanding mahasiswa kebanyakan.

“Ambis abis lo ya.”

“Gile, dia ambis abis orangnya. Tugas deadline masih minggu depan, dia udah selesai tadi.”

Dll.

Jadi seperti ada kubu diantara mahasiswa :

  1. Mereka yang dikatain ambis (Seringnya ngelak, lama-lama jatuhnya dikatain psytrap)
  2. Mereka yang memang ambis (Sudah coming out)
  3. Mereka yang mengatain ambis (Entah karena dia emang ga ambis atau takut dikalahkan keambisannya a.k.a gatau diri)

Anak-anak yang sibuk organisasi atau hal-hal lain selain belajar, biasanya gatal untuk berkomentar. Melihat teman-teman mereka yang setelah kuliah langsung pulang, tak pernah menunjukkan batang hidung di acara kampus, dan ya, ambis belajar dan mengerjakan tugas.

“Gila.. dia itu gak ada kerjaan apa ya.. belajar mulu..”

“Gue kan sibuk, lah dia.. belajar mulu, ya wajarlah IP-nya segitu.” Balas si anak organisasi waktu mengomentari anak ‘ambis’ yang IP-nya memang tidak mengkhianati usahanya.

well.. let me tell u, thats your own choices.

Aku salah satu orang yang dulu sering mengomentari anak-anak ‘ambis’. Menganggap betapa ‘flat’-nya kehidupan mereka yang kayaknya belajar mulu.

Well..

Setahun ditingkat dua, menyadarkanku betapa semuanya ini tentang pillihan masing-masing. Emang salah karena seseorang hidup sesuai dengan caranya dan bukan dengan cara yang kita lakukan ? nope. Kalau Kita mengejek mereka yang memilih lebih fokus dan kerja keras terhadap studi mereka dibanding berorganisasi atau nongkrong semalam suntuk bersama teman, itu berarti kita yang tidak bisa menghargai keputusan kehidupan seseorang.

Bahkan ‘Ambis’ sendiri memiliki makna yang begitu luas jika ditarik dari kata aslinya.

Ambisi (Menurut Kbbi.web.id) : keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu.

Setiap orang memiliki ambisi. Malah, lebih ekstrimnya, manusia membutuhkan ambisi untuk bisa menjadi kuat. Maka setiap orang pun memiliki ambisi yang berbeda-beda.

Beberapa mahasiswa memiliki ambisi untuk dikenal dan mengenal banyak orang, itu mengapa lebih memilih untuk mengikuti berbagai organisasi dan acara kampus yang bisa mewujudkan ambisi mereka tersebut. Sebagian memiliki ambisi untuk travelling, ada juga yang ambisinya berupa dedikasi dalam mendalami ajaran agam. Dan ya, ada juga mereka yang berambisi mendapatkan nilai yang baik di studinya.

Gak semuanya saling bertentangan. Kebanyakan orang memiliki beberapa ambisi dalam daftar cita-cita mereka.

Cuma dalam perkuliahan, entah mengapa kata ‘ambis’ menyempit maknanya, lebih condong kepada mereka yang ambisinya berpusat pada studi.

Bahkan tidak jarang terjadi, dimana komentar negatif terlontar ketika melihat ada mahasiswa yang nilainya rendah dan di kelas yang sama ada yang IP-nya sungguh wow. HAHAHA, its like the worst joke ever. Ketika ada anak kelas yang nilainya rendah (maafkan, bahkan D.O jika di kampus saya), yang dikambing hitamkan malah mereka yang IP-nya cemerlang di kelas itu.

Kita adalah mahasiswa, yang dilihat dari umurnya pun sudah dianggap dewasa untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan kita. Its not fine to mock other people because they’re not living their life like you do.

Sampai titik ini, Aku seperti berada mendukung pihak mereka yang ‘ambis’. Well, yeah.. Aku termasuk banyak belajar cara belajar yang baik dari mereka. Oiya, yang Aku tekankan disini adalah mereka yang ‘ambis’ yang berambisi. Bukan yang terobsesi.

its different you know ! Obsesi seperti tingkat ekstrim ambisius yang menjadi negatif. Obsesi itu seperti melampiaskan segala emosional mereka di dalam ambisi mereka. Jadi jika ambisi mereka tidak terpenuhi, orang itu bisa sangat stress, atau bertingkah berlebihan (a.k.a menyeramkan).

Orang yang berambisi, tidak akan mudah menyerah, tapi mereka yang terobsesi bisa begitu mengerikan. Orang yang berambisi akan akademik yang baik akan memusatkan energi dan pikiran mereka untuk berlatih dan belajar agar bisa mendapat nilai yang baik. Tapi ditingkat obsesi, orang bisa menjadi lupa diri, bisa jadi menghalalkan segala cara demi IP atau apapun itu yang sudah menjadi obsesi, bukan sekedar ambisi lagi.

Memiliki ambisi adalah hal yang bagus, tapi jangan sampai ambisi yang memegang setir kehidupanmu. Ibaratkan kehidupan adalah pengendaraan sebuah mobil, maka ambisi adalah titik pada peta yang menandakan daerah yang ingin kita capai. Tapi biarlah setir tetap dipegang oleh kita. Karena seringkali jalan yang kita tempuh tidak semulus peta yang ada di tangan kita.

Rasa gelisah berlebihan, ketakutan dan kecemasan, adalah hal yang harus kita hindari dalam berambisi. Karena hal negatif tersebut hanya akan mengecewakan dan membuat diri kita lelah. Biarlah harapan, cinta dan perasaan positif yang kita jadikan bahan bakar untuk setiap ambisi yang kita miliki. 

Aku pernah mendengar dari mereka yang ‘ambis’ ini, ketika mereka menceritakan dengan gamblang bagaimana jadwal belajar mereka yang begitu ketat dan konsisten. Disaat mahasiswa lain lebih memilih bersantai-santai karena ujian masih dua bulan lagi, mereka sudah belajar dimalam hari sembari mengerjakan tugas yang deadlinenya masih lama. Mereka tahu goals mereka tidak bisa ditempuh dengan SKS (Sitem Kebut Semalam). Maka dari itu mereka keras terhadap diri mereka dan memilih untuk disiplin dalam belajar.

Mungkin bagi beberapa orang kata ‘jenius’ adalah bagi mereka yang sering nongkrong atau bermain-main, tapi secara ajaib nilai mereka pun cemerlang. Seperti film-film detektif yang dimana tokoh utamanya biasanya memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Well, Aku tidak setuju. Menurutku, IQ yang tinggi tidak semerta-merta membuat orang ‘jenius’, walaupun pada kenyataannya label jenius stereotipnya adalah bagi mereka yang IQ-nya diatas rata-rata.

Tapi dalam realita, Aku lebih setuju pendapat Albert Einsten mengenai arti jenius :

Genius is 1% talent and 99% hard work.

Jenius adalah 1% bakat dan 99% kerja keras

Terkadang bagi yang merasa bodoh atau IQ-nya tidaklah cemerlang, sering merutuki diri dan menyalahkan kelahirannya yang tidaklah beruntung. Well.. Aku ingat sebuah pepatah lain yang dipakai teman sekelasku dulu ketika SMA  di buku tahunan, in the end hard working beats the talent, when talent doesn’t work hard. Artinya : Akhirnya kerja keraslah yang mengalahkan bakat, ketika bakat tidak dibarengi dengan kerja keras. Yap, sependapat dengan apa yang dikatakan Albert Einstein.

Itulah mengapa mereka yang belajar dengan tekun berjam-jam tetap lebih pantas disebut jenius dibanding mereka yang membuang-buang waktu karena merasa dirinya lebih ‘cepat menangkap pelajaran’. Maka gak ada alasan untuk menjadi bodoh kan ya ?

Berarti jenius bukanlah sebuah hak prestisius yang hanya diberikan ke orang-orang tertentu. Jenius yang sebenarnya bisa didapatkan semua orang, its opportunity for everybody. Tapi tidak semua yang mau untuk mendapatkan titel itu.

Hanya mereka yang berambisi dan dengan serius mengerjakan setiap pilihan yang mereka putuskan dengan tak kenal menyerah, yang akan dan pantas mendapat titel tersebut.

Ya, lagi-lagi ambisi disini bukan melulu tentang pelajaran diatas kertas. Mereka yang menjadi MC yang tenar di kampus, kita tidak pernah tahu betapa mereka berlatih keras di dalam kamarnya, menonton berbagai video MC kondang lainnya untuk dapat belajar dari sana. Kita tidak pernah tahu seberapa kerasnya para atlit tingkat nasional berlatih pagi siang malam, demi menjadi jenius dibidangnya. Bahkan untuk menampilkan sebuah tarian  yang berdurasi lima menit-an, dibutuhkan proses hingga berbulan-bulan, yang tentunya tidak diketahui oleh penonton.

YA. KITA TIDAK PERNAH TAHU.

Maka dari itu, untuk apa sibuk mengomentari orang lain ? Bukankah satu hal yang bisa kita tahu pasti adalah hal yang kita sendiri lakukan ?

Maka bukannya lebih kredibel dan bermanfaat jika kita mengevaluasi diri sendiri dibanding sibuk mengomentari kehidupan orang lain ?

well.. those questions slapped me right on my mind. 

Daripada menjadi sampis (sampah abis) karena sibuk mengurusi hal yang tidak seharusnya kita urus, lebih baik menjadi ‘ambis’ yang benar. Yang tahu tujuannya dan benar-benar mengerjakan hal-hal demi mencapai mimpi tersebut.

Diakhir postingan yang berasa speechy ini, Aku benar-benar menyukai sebuah kutipan yang pernah kulihat di CD artis Agnes Monica yang dijual di gerai KFC :

When haters were busy talkin’
I was busy making it happen
When they were busy mocking
I was busy walking
When they were busy laughing
I was busy running
And they’re STILL wondering
why they’re left behind..
With lots of love, me..

Hope your days going right and your ways going right..

See you at next post ^^

Iklan